← Kembali ke Blog

Mengapa Kami Memulai Numza

Percakapan makan siang yang santai di Jakarta mengungkap kebiasaan pengeluaran tersembunyi yang tidak nyaman, dan menginspirasi lahirnya Numza.


Suatu siang, dalam sebuah makan siang di Jakarta, percakapan santai dengan seorang rekan tiba-tiba berubah arah.

Kami sedang membicarakan kenaikan biaya hidup di Indonesia. Harga kebutuhan pokok naik, tagihan listrik dan air terus meninggi, dan gaji kami tidak sanggup mengejar.

Lalu rekan saya menyinggung sesuatu sambil lalu: meski makan di luar dua tiga kali seminggu, dia masih bisa menyisihkan kira-kira Rp10 juta setiap bulannya.

Saya menatapnya dengan tidak percaya. Menabung Rp10 juta sebulan? Saya hidup dari gaji ke gaji, menyaksikan saldo rekening saya nyaris nol menjelang setiap transfer gaji masuk.

Lalu muncul pertanyaan yang membuat saya membeku:

“Tunggu, bukannya kamu bergaji lebih besar dariku? Uangmu ke mana semua?”

Keyakinan vs. Kenyataan

Saya hanya bisa duduk tanpa jawaban.

Yang saya yakini: saya hidup hemat. Saya memasak di rumah hampir setiap malam, menjauhi malam-malam mahal, dan sesekali memanjakan diri dengan makan malam tak seberapa, mungkin seminggu sekali.

Yang sebenarnya ditunjukkan angka: saya tidak menabung apa pun. Saya benar-benar tidak tahu ke mana uang itu pergi.

Malam itu, bertekad mencari tahu, saya mengunduh beberapa aplikasi keuangan pribadi. Namun nyaris seketika saya mentok. Hampir semua pencatat pengeluaran membuat mencatat pengeluaran terasa seperti pekerjaan lain lagi. Terlalu banyak kolom wajib, terlalu banyak ketukan, dan pohon kategori yang kaku, terasa seperti memasukkan data untuk kantor akuntansi. Beberapa hari saja, saya berhenti membukanya. Saya ingin sesuatu yang benar-benar akan saya pakai setiap hari.

Saya menyadari sesuatu yang penting tentang situasi saya sendiri.

Saya tidak butuh aplikasi lain yang menggurui saya untuk berhenti membeli kopi.

Saya tidak butuh rencana keuangan rumit setebal lima puluh halaman.

Saya hanya butuh visibilitas.

Dan itulah yang menjadi ide di balik Numza.

Membangun yang Kami Butuhkan

Saya menelepon sahabat dekat dengan latar belakang keuangan. Kami menghabiskan berjam-jam membicarakan mengapa mencatat pengeluaran pribadi selalu terasa begitu melelahkan, dan kami memutuskan membangun solusi sendiri.

Kami menjaga tim tetap kecil dan fokus. Saya membangun sendiri versi pertama Numza, sementara rekan pendiri saya fokus pada sisi analitis produk.

Pengalaman itu membentuk bagaimana kami ingin Numza terasa. Mencatat pengeluaran tidak seharusnya terasa seperti hukuman atau PR akuntansi. Ia harus cukup sederhana sehingga kamu benar-benar terus melakukannya.

Karena itu kami ingin mencatat pengeluaran hanya butuh hitungan detik, entah kamu mengetiknya, mengucapkannya, atau memindai struk. Dan begitu pengeluaran tercatat, Numza harus membantu kamu memahami kebiasaan belanjamu tanpa membuatmu merasa bersalah.

Yang Diungkap Pemakaian Harian

Kami mulai memakai Numza sendiri untuk setiap transaksi, sambil membagikan versi awal kepada teman-teman.

Hidup bersama aplikasi itu dengan cepat meruntuhkan asumsi saya sendiri.

Makan malam “kadang-kadang” itu ternyata terjadi jauh lebih sering dari yang saya kira. Yang terasa seperti beberapa pembelian kecil tiap minggu diam-diam menjadi jutaan rupiah sebulan. Langganan digital saya bahkan lebih membuka mata. Saya menemukan beberapa layanan premium yang nyaris tidak saya sentuh, langganan yang bisa dengan mudah diturunkan ke paket gratis beriklan atau dibatalkan sama sekali tanpa memengaruhi hidup saya sedikit pun.

Saya tidak butuh penghematan yang ekstrem. Saya hanya butuh visibilitas.

Mengapa Kami Membangun Numza

Kami tidak ingin Numza memberi tahu kamu apa yang boleh dan tidak boleh dibeli.

Kami ingin mempermudah melihat ke mana uangmu sebenarnya pergi.

Karena begitu kamu bisa melihatnya dengan jelas, kamu bisa memutuskan sendiri apa yang berarti bagimu.

Itulah jenis pencatat pengeluaran yang kami inginkan untuk diri kami sendiri. Dan karena itulah kami membangun Numza.